Surat Cinta
untuk si Pemecut
()
Menangis, selalu saja terluapkan, tanpa seizinku, tanpa
melalui permisi,
Tak berhasil
kubendung, tak kuasa ku sembunyikan,
Aku tak kuat melawan arusnya, yang demikian memecutku,
Terlebih, lewat hentakkan suara yang berhasil menyeru
jantungku, seperti dentuman hebat yang siap memudalkan kepalaku,
Mungkin saja aku terlalu goyah, terlalu lemah, terlalu
bodoh, terlalu ceroboh, terlalu rela membiarkan diri ini terbanting si pemecut,
Lihat, “Kau begitu hebat, kau berhasil, kau telah berhasil
membuatku terbangun dari kelalaianku, dari kekaliruanku,
Kau berhasil membuat
setruman dahsyat dalam memoryku,
Kau berhasil memancing
butiran-butiran air mataku terjatuh,
Terima kasih, karena
kau benar, dan aku yang salah”,
Demi sepasang mata yang telah sembab, aku bersumpah, tak akan
kubiarkan sekali lagi si pemecut hadir dengan pecutannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar